Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
B. Sholat Sunnah Rawatib Ghairu Mu’akkad (Dianjurkan)
Rawatib ghairu mu’akkad adalah sholat-sholat sunnah yang terkadang dikerjakan dan terkadang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW untuk menunjukkan bahwa statusnya tidak wajib, namun tetap mengandung pahala besar:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
B. Sholat Sunnah Rawatib Ghairu Mu’akkad (Dianjurkan)
Rawatib ghairu mu’akkad adalah sholat-sholat sunnah yang terkadang dikerjakan dan terkadang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW untuk menunjukkan bahwa statusnya tidak wajib, namun tetap mengandung pahala besar:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
B. Sholat Sunnah Rawatib Ghairu Mu’akkad (Dianjurkan)
Rawatib ghairu mu’akkad adalah sholat-sholat sunnah yang terkadang dikerjakan dan terkadang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW untuk menunjukkan bahwa statusnya tidak wajib, namun tetap mengandung pahala besar:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
B. Sholat Sunnah Rawatib Ghairu Mu’akkad (Dianjurkan)
Rawatib ghairu mu’akkad adalah sholat-sholat sunnah yang terkadang dikerjakan dan terkadang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW untuk menunjukkan bahwa statusnya tidak wajib, namun tetap mengandung pahala besar:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
B. Sholat Sunnah Rawatib Ghairu Mu’akkad (Dianjurkan)
Rawatib ghairu mu’akkad adalah sholat-sholat sunnah yang terkadang dikerjakan dan terkadang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW untuk menunjukkan bahwa statusnya tidak wajib, namun tetap mengandung pahala besar:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
B. Sholat Sunnah Rawatib Ghairu Mu’akkad (Dianjurkan)
Rawatib ghairu mu’akkad adalah sholat-sholat sunnah yang terkadang dikerjakan dan terkadang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW untuk menunjukkan bahwa statusnya tidak wajib, namun tetap mengandung pahala besar:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
B. Sholat Sunnah Rawatib Ghairu Mu’akkad (Dianjurkan)
Rawatib ghairu mu’akkad adalah sholat-sholat sunnah yang terkadang dikerjakan dan terkadang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW untuk menunjukkan bahwa statusnya tidak wajib, namun tetap mengandung pahala besar:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
B. Sholat Sunnah Rawatib Ghairu Mu’akkad (Dianjurkan)
Rawatib ghairu mu’akkad adalah sholat-sholat sunnah yang terkadang dikerjakan dan terkadang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW untuk menunjukkan bahwa statusnya tidak wajib, namun tetap mengandung pahala besar:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
B. Sholat Sunnah Rawatib Ghairu Mu’akkad (Dianjurkan)
Rawatib ghairu mu’akkad adalah sholat-sholat sunnah yang terkadang dikerjakan dan terkadang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW untuk menunjukkan bahwa statusnya tidak wajib, namun tetap mengandung pahala besar:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
B. Sholat Sunnah Rawatib Ghairu Mu’akkad (Dianjurkan)
Rawatib ghairu mu’akkad adalah sholat-sholat sunnah yang terkadang dikerjakan dan terkadang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW untuk menunjukkan bahwa statusnya tidak wajib, namun tetap mengandung pahala besar:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
Rincian Pembagian Rawatib Mu’akkad dan Ghairu Mu’akkad
Dalam disiplin fiqih madzhab Syafi’i, jadwal sholat sunnah rawatib diklasifikasikan menjadi dua kelompok besar berdasarkan derajat penekanan sunnahnya:
A. Sholat Sunnah Rawatib Mu’akkad (Sangat Dianjurkan)
Rawatib mu’akkad adalah amalan yang hampir tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW baik saat mukim maupun dalam sebagian kondisi safar. Jumlahnya berkisar 10 hingga 12 rakaat sehari-semalam:
B. Sholat Sunnah Rawatib Ghairu Mu’akkad (Dianjurkan)
Rawatib ghairu mu’akkad adalah sholat-sholat sunnah yang terkadang dikerjakan dan terkadang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW untuk menunjukkan bahwa statusnya tidak wajib, namun tetap mengandung pahala besar:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
Rincian Pembagian Rawatib Mu’akkad dan Ghairu Mu’akkad
Dalam disiplin fiqih madzhab Syafi’i, jadwal sholat sunnah rawatib diklasifikasikan menjadi dua kelompok besar berdasarkan derajat penekanan sunnahnya:
A. Sholat Sunnah Rawatib Mu’akkad (Sangat Dianjurkan)
Rawatib mu’akkad adalah amalan yang hampir tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW baik saat mukim maupun dalam sebagian kondisi safar. Jumlahnya berkisar 10 hingga 12 rakaat sehari-semalam:
B. Sholat Sunnah Rawatib Ghairu Mu’akkad (Dianjurkan)
Rawatib ghairu mu’akkad adalah sholat-sholat sunnah yang terkadang dikerjakan dan terkadang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW untuk menunjukkan bahwa statusnya tidak wajib, namun tetap mengandung pahala besar:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
Rincian Pembagian Rawatib Mu’akkad dan Ghairu Mu’akkad
Dalam disiplin fiqih madzhab Syafi’i, jadwal sholat sunnah rawatib diklasifikasikan menjadi dua kelompok besar berdasarkan derajat penekanan sunnahnya:
A. Sholat Sunnah Rawatib Mu’akkad (Sangat Dianjurkan)
Rawatib mu’akkad adalah amalan yang hampir tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW baik saat mukim maupun dalam sebagian kondisi safar. Jumlahnya berkisar 10 hingga 12 rakaat sehari-semalam:
B. Sholat Sunnah Rawatib Ghairu Mu’akkad (Dianjurkan)
Rawatib ghairu mu’akkad adalah sholat-sholat sunnah yang terkadang dikerjakan dan terkadang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW untuk menunjukkan bahwa statusnya tidak wajib, namun tetap mengandung pahala besar:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
Rincian Pembagian Rawatib Mu’akkad dan Ghairu Mu’akkad
Dalam disiplin fiqih madzhab Syafi’i, jadwal sholat sunnah rawatib diklasifikasikan menjadi dua kelompok besar berdasarkan derajat penekanan sunnahnya:
A. Sholat Sunnah Rawatib Mu’akkad (Sangat Dianjurkan)
Rawatib mu’akkad adalah amalan yang hampir tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW baik saat mukim maupun dalam sebagian kondisi safar. Jumlahnya berkisar 10 hingga 12 rakaat sehari-semalam:
B. Sholat Sunnah Rawatib Ghairu Mu’akkad (Dianjurkan)
Rawatib ghairu mu’akkad adalah sholat-sholat sunnah yang terkadang dikerjakan dan terkadang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW untuk menunjukkan bahwa statusnya tidak wajib, namun tetap mengandung pahala besar:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut:
Tuntunan sholat sunnah rawatib merupakan khazanah ibadah agung yang menyempurnakan sholat fardhu lima waktu sehari-semalam. Dalam istilah fiqih Islam, shalat sunnah yang mengiringi shalat fardhu disebut sholat rawatib. Istilah ini juga menjawab pertanyaan seputar sholat sunnah yang mengikuti shalat wajib disebut apa, yaitu sholat sunnah rawatib yang terbagi menjadi sholat sunnah qobliyah (dikerjakan sebelum sholat wajib) dan sholat sunnah ba’diyah (dikerjakan sesudah sholat wajib). Pensyariatan sholat pengiring ini memiliki kedudukan sangat mulia karena menjadi benteng pelindung bagi sholat fardhu sekaligus penambal kekurangan kekhusyukan dan bacaan seorang hamba di hadapan Allah SWT. Madzhab Syafi’i melalui kitab-kitab mu’tamad seperti Fathul Qarib Al-Mujib, Kifayatul Akhyar, dan Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menguraikan secara rinci pembagian rawatib mu’akkad dan ghairu mu’akkad beserta tata cara pelaksanaannya.
Dalil Pensyariatan Sholat Rawatib dan Janji Istana di Surga
Keteladanan Rasulullah SAW dalam menjaga ibadah sunnah ditegaskan oleh Allah SWT di dalam surat Al-Ahzab ayat 21, di mana kepribadian Nabi SAW adalah teladan terbaik bagi orang yang mengharap ridha Ilahi:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Allah SWT juga menjanjikan ganjaran berlipat bagi kaum mukmin yang senantiasa menegakkan sholat dan berbuat kebajikan sebagaimana termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 277:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sungguh, orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 277).
Keutamaan shalat rawatib ditegaskan dalam hadits masyhur dari Ummul Mukminin Sayyidah Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan RA, di mana Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلّٰهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا، غَيْرَ فَرِيضَةٍ، إِلَّا بَنَى اللّٰهُ لَهُ بَيْتًا فِي الجَنَّةِ
“Tidaklah seorang hamba muslim mengerjakan sholat sunnah tathawwu’ karena Allah setiap hari sebanyak dua belas rakaat di luar sholat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah istana di surga.” (HR. Muslim No. 728).
Adapun sahabat mulia Abdullah bin Umar RA meriwayatkan sepuluh rakaat rawatib mu’akkad yang senantiasa dijaga Rasulullah SAW: “Aku menghafal dari Rasulullah SAW sepuluh rakaat: dua rakaat sebelum Dzuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Maghrib di rumahnya, dua rakaat sesudah Isya di rumahnya, dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR. Bukhari No. 1180 dan Muslim No. 729).
Hikmah Fiqih Sholat Sunnah Pengiring Sholat Fardhu
Para ulama menjelaskan bahwa pensyariatan sholat sunnah sesudah dan sebelum sholat wajib memiliki hikmah psikologis dan ruhiyah yang sangat mendalam bagi seorang hamba:
Rincian Pembagian Rawatib Mu’akkad dan Ghairu Mu’akkad
Dalam disiplin fiqih madzhab Syafi’i, jadwal sholat sunnah rawatib diklasifikasikan menjadi dua kelompok besar berdasarkan derajat penekanan sunnahnya:
A. Sholat Sunnah Rawatib Mu’akkad (Sangat Dianjurkan)
Rawatib mu’akkad adalah amalan yang hampir tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW baik saat mukim maupun dalam sebagian kondisi safar. Jumlahnya berkisar 10 hingga 12 rakaat sehari-semalam:
B. Sholat Sunnah Rawatib Ghairu Mu’akkad (Dianjurkan)
Rawatib ghairu mu’akkad adalah sholat-sholat sunnah yang terkadang dikerjakan dan terkadang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW untuk menunjukkan bahwa statusnya tidak wajib, namun tetap mengandung pahala besar:
Tabel Lengkap Jadwal Sholat Sunnah Rawatib 5 Waktu
Berikut adalah matriks komparasi jadwal lengkap sholat sunnah rawatib sepanjang siang dan malam menurut madzhab Syafi’i:
| Waktu Sholat | Qobliyah (Sebelum Fardhu) | Ba’diyah (Sesudah Fardhu) | Status Hukum Syariat |
|---|---|---|---|
| Subuh | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Qobliyah Subuh paling utama; tidak ada sholat sunnah ba’da Subuh. |
| Dzuhur | 2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
2 Rakaat (Mu’akkad) + 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) |
Total hingga 8 rakaat pelindung neraka; salam tiap 2 rakaat. |
| Ashar | 4 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | Tidak Ada (Haram/Makruh) | Mendapat doa rahmat Rasulullah SAW; tidak ada ba’da Ashar. |
| Maghrib | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Qobliyah dikerjakan ringan; Ba’diyah Maghrib sangat dianjurkan di rumah. |
| Isya | 2 Rakaat (Ghairu Mu’akkad) | 2 Rakaat (Mu’akkad) | Ba’diyah Isya mu’akkad; dilanjutkan witir sebelum tidur. |
Tata Cara Shalat Rawatib dan Lafaz Niat
Dalam kaifiyah cara shalat rawatib, sholat dikerjakan secara munfarid (sendirian) tanpa adzan dan tanpa iqomah. Gerakannya sama persis seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niat dilafalkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut contoh lafaz niat rawatib yang masyhur:
Niat Qobliyah Dzuhur 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatadh dhuhri rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sebelum Dzuhur dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat Ba’diyah Maghrib 2 Rakaat:
أُصَلِّي سُنَّةَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat sholat sunnah sesudah Maghrib dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menyunnahkan memisahkan tempat antara sholat fardhu dan sholat rawatib, misalnya dengan bergeser ke kanan, ke kiri, mundur sedikit, atau berbicara sejenak, agar saksi sujud di bumi menjadi berlipat ganda pada hari kiamat.
Fiqih Berpindah Posisi dan Memperbanyak Saksi Sujud
Ketetapan memisahkan tempat sholat fardhu dan rawatib bersandar pada hadits riwayat Sayyidina Mu’awiyah RA dalam Shahih Muslim (No. 883), di mana Rasulullah SAW memerintahkan agar kaum mukmin tidak menyambung satu sholat dengan sholat lainnya hingga ia berbicara atau berpindah tempat. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan hikmah agungnya: bumi dan setiap petak tanah yang disentuh dahi seorang mukmin akan bersaksi di hadapan Allah SWT pada yaumil qiyamah, sebagaimana isyarat firman Allah SWT dalam surat Al-Zalzalah ayat 4: يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”). Dengan berpindah tempat walau sejengkal, mushalli mencatatkan jejak sujud baru yang memperbanyak saksi amal shalihnya.
Ketentuan Sholat Rawatib Saat Menjamak Sholat dalam Safar
Bagi seorang musafir yang memanfaatkan rukhshah (keringanan) menjamak sholat fardhu (misalnya menjamak taqdim sholat Dzuhur dan Ashar), timbul pertanyaan apakah tetap dianjurkan mendirikan sholat sunnah rawatib? Ulama madzhab Syafi’i menegaskan bahwa sholat sunnah rawatib tetap disunnahkan bagi musafir, khususnya qobliyah Subuh dan witir. Namun dalam pelaksanaannya, syarat sah jamak taqdim mewajibkan adanya muwalah (berkesinambungan tanpa jeda panjang) antara sholat fardhu pertama dan kedua. Oleh karena itu, mushalli mendirikan fardhu Dzuhur terlebih dahulu, kemudian langsung mendirikan fardhu Ashar. Setelah kedua sholat fardhu tuntas ditunaikan, barulah ia mendirikan sholat sunnah rawatib qobliyah Dzuhur, dilanjutkan ba’diyah Dzuhur, dan ditutup dengan sunnah sebelum Ashar secara berurutan.
Kajian Fiqih Sholat Sunnah Hari Jumat
Banyak pertanyaan di kalangan jamaah mengenai sholat sebelum jumatan dan sholat sesudah adzan jumat. Tradisi santri dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menegaskan kepastian syariat sholat sunnah Jumat sebagai berikut:
Amalan Ba’da Ashar di Hari Jumat dan Amalan Sholat Maghrib
Meskipun setelah sholat Ashar diharamkan mendirikan sholat sunnah mutlaq (karena masuk waktu makruh tahrim menjelang terbenamnya matahari), momentum ba’da Ashar di hari Jumat merupakan waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim berdoa memohon kebaikan melainkan Allah akan mengabulkannya, dan waktu tersebut berada pada ba’da Ashar hingga terbenam matahari (HR. Abu Dawud No. 1048).
Para ulama salaf menganjurkan memperbanyak amalan setelah sholat ashar di hari jumat berupa membaca shalawat atas Nabi SAW sebanyak 80 kali (seperti Shalawat Ummi), membaca surat Al-Kahfi, dan memperbanyak bacaan alquran setelah sholat ashar seperti surat Yasin dan Al-Waqi’ah menjelang adzan Maghrib.
Selanjutnya saat tiba waktu petang, rangkaian amalan sholat maghrib diawali dengan menjawab seruan muadzin, mendirikan sholat sunnah setelah adzan berupa shalat sunnah setelah adzan dua rakaat qobliyah ringan, sholat fardhu Maghrib berjamaah, dilanjutkan sholat sunnah setelah maghrib (ba’diyah Maghrib) dua rakaat. Bagi santri yang ingin menambah keutamaan, jeda waktu sholat setelah magrib hingga adzan Isya dapat diisi dengan sholat sunnah Awwabin sebanyak dua hingga enam rakaat dan tilawah Al-Qur’an.
Tanya Jawab Seputar Sholat Rawatib (FAQ)
Bolehkah sholat sunnah sebelum adzan berkumandang?
Sholat rawatib qobliyah tidak sah jika dikerjakan sebelum masuknya waktu sholat fardhu (sebelum adzan). Pertanyaan seputar shalat sebelum adzan dzuhur dijawab oleh para fuqaha bahwa waktu sholat qobliyah baru dimulai saat waktu sholat fardhu telah masuk. Jika dikerjakan sebelum masuk waktu, sholat tersebut hanya berstatus sholat sunnah mutlaq dan tidak menggugurkan sunnah qobliyah.
Apakah sholat rawatib boleh diqadha jika terlewat?
Boleh. Menurut madzhab Syafi’i, sholat sunnah rawatib yang terikat dengan waktu fardhu (mu’aqqat) disunnahkan untuk diqadha apabila terlewat karena udzur lupa atau tertidur. Misalnya seseorang yang belum sempat sholat qobliyah Subuh karena mengejar sholat fardhu berjamaah, diperbolehkan mengqadhanya setelah sholat Subuh atau setelah matahari terbit.
Mana yang lebih afdhal: sholat rawatib di masjid atau di rumah?
Sholat rawatib lebih afdhal dikerjakan di rumah bagi orang yang sholat fardhunya di masjid, bersandar pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik sholat seseorang adalah di rumahnya, kecuali sholat fardhu.” (HR. Bukhari No. 731). Namun jika dikhawatirkan terlewat karena kesibukan rumah, maka mengerjakannya di masjid tetap mendapatkan pahala sunnah yang sempurna.
Surat apa yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh?
Surat yang paling dianjurkan dibaca pada sholat qobliyah Subuh (fajar) adalah surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 726). Sebagian ulama salaf juga menganjurkan membaca surat Alam Nasyrah (Al-Insyirah) pada rakaat pertama dan Alam Tara Kaifa (Al-Fil) pada rakaat kedua untuk memohon kelapangan dada dan perlindungan dari kejahatan musuh.
Bagaimana jika sedang sholat qobliyah lalu muadzin mengumandangkan iqomah?
Jika iqomah dikumandangkan saat Anda baru memulai rakaat pertama dan belum ruku’, maka dianjurkan membatalkan sholat sunnah tersebut demi menyambut sholat fardhu berjamaah. Namun jika Anda sudah menyelesaikan satu rakaat atau sedang ruku’ di rakaat kedua, maka selesaikanlah sholat sunnah tersebut secara ringkas dan cepat tanpa memanjangkan bacaan, lalu segera bergabung ke dalam shaf sholat fardhu.
Pelaksanaan rawatib qobliyah senantiasa menunggu kepastian waktu masuk sholat yang ditandai oleh kumandang adzan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Di antara rawatib muakkad, sholat sunnah dua rakaat qobliyah subuh menempati derajat kemuliaan tertinggi.
- Amalan rawatib menjadi benteng pelindung dan penambal kekurangan pahala pada sholat 5 waktu yang kita tunaikan.
- Selain rawatib yang mengiringi sholat fardhu, kaum muslimin juga dianjurkan merutinkan sholat dhuha di pagi hari.
Kajian Fiqih Ibadah Terkait
Untuk melengkapi pemahaman fiqih sholat dan menyelaraskan jadwal ibadah harian Anda, pelajari ulasan-ulasan pendukung berikut: