Tuntunan Sholat Fardhu 5 Waktu Lengkap: Rukun Sholat, Bacaan Arab-Latin, Arti, dan Gerakan Tertib

Sholat fardhu lima waktu (Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya) merupakan tiang pancang agama Islam, rukun Islam kedua setelah dua kalimah syahadat, dan kewajiban ibadah paling pokok bagi setiap muslim mukallaf dengan jumlah total 17 rakaat sehari semalam. Keabsahan sholat seorang hamba bertumpu secara mutlak pada pemenuhan seluruh syarat sah dan rukun sholat—baik menurut hitungan 17 rukun kitab Safinatun Naja yang menghitung empat thuma’ninah secara mandiri maupun 13 rukun konsolidasi silabus madzhab Syafi’i kitab Fathul Qarib Al-Mujib—yang dikerjakan secara tertib, khusyuk, dan cermat sejak takbiratul ihram hingga salam penutup.

Kewajiban Sholat Fardhu 5 Waktu dalam Al-Qur’an dan Sunnah

Kewajiban mendirikan sholat fardhu ditegaskan berulang kali di dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 43:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43).

Ketentuan pembagian waktu sholat fardhu sepanjang siang dan malam diisyaratkan oleh Allah SWT dalam surat Al-Isra’ ayat 78:

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“Laksanakanlah sholat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakanlah pula sholat) Subuh. Sungguh, sholat Subuh itu disaksikan (oleh para malaikat).” (QS. Al-Isra’: 78).

Allah SWT juga memberikan peringatan khusus untuk menjaga sholat lima waktu, terutama sholat pertengahan (Ash-Shalatul Wustha) yang menurut qaul mu’tamad Syafi’iyyah dan jumhur sahabat adalah sholat Ashar:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah semua sholat (fardhu) dan sholat Wustha (Ashar). Dan berdirilah untuk Allah (dalam sholatmu) dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238).

Adapun pedoman utama dalam tata cara dan kaifiyah gerakan sholat bersandar langsung pada sabda Rasulullah SAW:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat.” (HR. Bukhari No. 631). Kewajiban menjaga thuma’ninah (diam sejenak dengan tenang) pada setiap gerakan ditegaskan dalam hadits masyhur al-musi’u shalatahu (orang yang buruk sholatnya), di mana Rasulullah SAW menyuruh seorang sahabat mengulang sholatnya hingga tiga kali seraya bersabda: “Kembalilah dan sholatlah, karena sesungguhnya engkau belum sholat!” (HR. Bukhari No. 757 dan Muslim No. 397).

Rincian 5 Waktu Sholat, Jumlah Rakaat, dan Batasan Syar’i

Dalam kurun sehari semalam, setiap muslim diwajibkan mendirikan lima sholat fardhu dengan rincian waktu syar’i dan bilangan rakaat sebagai berikut:

Sholat Fardhu Jumlah Rakaat Awal Masuk Waktu Syar’i Batas Akhir Waktu Syar’i
Subuh 2 Rakaat Terbitnya fajar shadiq (cahaya putih merata di ufuk timur). Terbitnya piringan matahari di ufuk timur (waktu syuruq).
Dzuhur 4 Rakaat Tergelincirnya matahari dari titik puncak langit ke arah barat (zawal). Panjang bayangan benda sama persis dengan tinggi bendanya (ditambah bayangan saat zawal).
Ashar 4 Rakaat Panjang bayangan benda melebihi tinggi bendanya. Terbenamnya seluruh bulatan matahari di ufuk barat.
Maghrib 3 Rakaat Terbenamnya seluruh piringan matahari secara sempurna. Hilangnya mega merah (syafaq al-ahmar) di langit ufuk barat.
Isya 4 Rakaat Hilangnya mega merah di ufuk barat hingga langit gelap pekat. Terbitnya fajar shadiq (waktu ikhtiyar hingga sepertiga malam pertama/tengah malam).

Syarat Wajib dan Syarat Sah Sholat

Sebelum mendirikan sholat, seorang hamba wajib memastikan terpenuhinya syarat-syarat yang ditetapkan syariat. Terdapat dua kelompok syarat yang wajib dipahami:

A. Syarat Wajib Sholat

Syarat wajib adalah kriteria yang menyebabkan seseorang dibebani kewajiban sholat secara hukum taklif:

  1. Islam: Sholat tidak diwajibkan secara tuntutan duniawi kepada orang kafir asli, dan orang murtad wajib mengqadha sholat yang ditinggalkan selama masa murtadnya setelah kembali masuk Islam.
  2. Baligh: Telah mencapai usia dewasa biologis (keluar mani bagi laki-laki/perempuan, haidh bagi perempuan, atau genap berusia 15 tahun hijriyah). Anak-anak diperintahkan sholat sejak usia 7 tahun sebagai pembelajaran.
  3. Berakal Sehat: Orang gila, pingsan, atau hilang akal tidak terkena kewajiban sholat selama masa hilang akalnya.
  4. Telah Sampai Dakwah Islam: Orang yang hidup terisolasi tanpa pernah mendengar seruan Islam tidak dibebani kewajiban sholat.
  5. Suci dari Haidh dan Nifas: Khusus bagi wanita muslimah, diharamkan sholat saat haidh atau nifas dan tidak ada kewajiban mengqadha sholat tersebut setelah suci.

B. Syarat Sah Sholat

Syarat sah adalah hal-hal yang wajib terwujud sebelum sholat dimulai dan wajib terpelihara sepanjang sholat berlangsung agar ibadah tersebut sah dan diterima di sisi Allah SWT:

  • Suci dari Hadats Kecil dan Hadats Besar: Berwudhu dari hadats kecil atau mandi wajib dari hadats besar (atau bertayammum saat ada udzur syar’i).
  • Suci Badan, Pakaian, dan Tempat dari Najis: Bebas dari najis yang tidak dimaafkan (ghairu ma’fu).
  • Menutup Aurat: Aurat laki-laki adalah antara pusar hingga lutut. Aurat perempuan merdeka adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan (punggung dan telapak tangan). Penutup aurat wajib berupa pakaian suci yang tidak tembus pandang menampakkan warna kulit.
  • Telah Masuk Waktu Sholat: Mengetahui masuknya waktu sholat secara yakin atau melalui metode hisab falakiyah yang terpercaya. Sholat yang ditunaikan sebelum masuk waktu hukumnya tidak sah.
  • Menghadap Kiblat: Menghadapkan dada lurus ke arah Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah, kecuali bagi yang sholat khauf (perang dahsyat) atau sholat sunnah di atas kendaraan bagi musafir.
  • Mengetahui Rukun dan Sunnah: Mengetahui bahwa sholat yang dikerjakan hukumnya fardhu dan tidak meyakini salah satu rukun fardhu sebagai sunnah.
  • Menjauhi Hal-Hal yang Membatalkan Sholat: Menjaga diri dari berbicara sengaja, bergerak tiga kali berturut-turut, makan, minum, tertawa terbahak-bahak, dan terbukanya aurat.

Disunnahkan pula meletakkan sutrah (pembatas sholat di depan tempat sujud, seperti dinding, tiang, sajadah, atau tongkat) agar orang lain tidak melintas persis di depan orang yang sedang sholat.

Kajian Fiqih Rukun Sholat: 17 Rukun Safinah vs 13 Rukun Fathul Qarib

Rukun sholat adalah pilar-pilar hakiki yang membentuk hakikat sholat itu sendiri. Jika salah satu rukun tertinggal atau cacat, sholatnya menjadi batal dan tidak dapat digantikan hanya dengan sujud sahwi.

Dalam literatur pesantren madzhab Syafi’i, terdapat perbedaan hitungan nominal yang masyhur antara kitab Safinatun Naja dan kitab Fathul Qarib Al-Mujib:

  • 17 Rukun menurut Kitab Safinatun Naja: Syaikh Salim bin Sumair Al-Hadhrami merinci 17 rukun dengan menghitung empat thuma’ninah sebagai rukun tersendiri secara eksplisit: (1) Niat, (2) Takbiratul ihram, (3) Berdiri bagi yang mampu, (4) Membaca Al-Fatihah, (5) Ruku’, (6) Thuma’ninah saat ruku’, (7) I’tidal, (8) Thuma’ninah saat i’tidal, (9) Sujud dua kali, (10) Thuma’ninah saat sujud, (11) Duduk antara dua sujud, (12) Thuma’ninah saat duduk antara dua sujud, (13) Duduk tasyahhud akhir, (14) Membaca tasyahhud akhir, (15) Membaca shalawat atas Nabi SAW pada tasyahhud akhir, (16) Salam pertama, dan (17) Tertib.
  • 13 Rukun menurut Kitab Fathul Qarib Al-Mujib: Syaikh Ibnu Qasim Al-Ghazi mengkonsolidasikan hitungan menjadi 13 rukun dengan memasukkan thuma’ninah sebagai syarat kelengkapan integratif dari rukun fi’li yang bersangkutan (ruku’ beserta thuma’ninahnya dihitung satu rukun, i’tidal beserta thuma’ninahnya dihitung satu rukun, dan seterusnya).

Kedua hitungan kitab mu’tamad di atas memiliki substansi fiqih yang sama persis tanpa pertentangan hakiki. Dari aspek jenisnya, para ulama membagi rukun sholat menjadi empat klasifikasi utama:

Klasifikasi Rukun Hakikat & Cara Pelaksanaan Rincian Rukun Terkait
1. Rukun Qalbi Dikerjakan di dalam hati sanubari tanpa suara lisan. Niat sholat (menyengaja di dalam hati bersamaan takbiratul ihram).
2. Rukun Qauli Wajib diucapkan dengan lisan dan didengar oleh telinga sendiri (tidak cukup berbisik dalam hati). (1) Takbiratul Ihram, (2) Membaca Al-Fatihah, (3) Membaca Tasyahhud Akhir, (4) Membaca Shalawat atas Nabi, dan (5) Salam Pertama.
3. Rukun Fi’li Gerakan fisik anggota badan yang wajib dikerjakan dengan thuma’ninah. (1) Berdiri, (2) Ruku’, (3) I’tidal, (4) Sujud dua kali, (5) Duduk antara dua sujud, dan (6) Duduk tasyahhud akhir.
4. Rukun Ma’nawi Sifat keteraturan tata urutan yang mengikat seluruh rukun. Tertib (mengerjakan rukun awal sebelum rukun berikutnya).

Urutan Lengkap Gerakan dan Bacaan Sholat dari Takbir hingga Salam

Berikut adalah tata urutan terperinci kaifiyah sholat fardhu dari awal hingga akhir, dilengkapi teks bacaan Arab berharakat, transliterasi santri, arti terjemahan, dan keterangan fiqihnya:

Langkah 1: Berdiri Tegak dan Pelafalan Niat

Berdiri tegak menghadap kiblat dengan pandangan mata diarahkan ke tempat sujud. Melafalkan niat secara lisan hukumnya sunnah menurut madzhab Syafi’i untuk membantu memantapkan konsentrasi hati, sedangkan niat yang menjadi rukun sholat adalah niat di dalam hati yang dihadirkan berbarengan dengan ucapan takbiratul ihram.

Lafaz niat untuk masing-masing sholat fardhu ketika menjadi munfarid (sholat sendirian):

  • Subuh: Ushalli fardhash shubhi rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an lillahi ta’ala. (Artinya: “Saya niat sholat fardhu Subuh dua rakaat menghadap kiblat pada waktunya karena Allah Ta’ala”).
  • Dzuhur: Ushalli fardhadh dhuhri arba’a raka’atin mustaqbilal qiblati adaa-an lillahi ta’ala. (Artinya: “Saya niat sholat fardhu Dzuhur empat rakaat menghadap kiblat pada waktunya karena Allah Ta’ala”).
  • Ashar: Ushalli fardhal ‘ashri arba’a raka’atin mustaqbilal qiblati adaa-an lillahi ta’ala. (Artinya: “Saya niat sholat fardhu Ashar empat rakaat menghadap kiblat pada waktunya karena Allah Ta’ala”).
  • Maghrib: Ushalli fardhal maghribi tsalatsa raka’atin mustaqbilal qiblati adaa-an lillahi ta’ala. (Artinya: “Saya niat sholat fardhu Maghrib tiga rakaat menghadap kiblat pada waktunya karena Allah Ta’ala”).
  • Isya: Ushalli fardhal ‘isya-i arba’a raka’atin mustaqbilal qiblati adaa-an lillahi ta’ala. (Artinya: “Saya niat sholat fardhu Isya empat rakaat menghadap kiblat pada waktunya karena Allah Ta’ala”).

Jika menjadi makmum, tambahkan kata ma’muman, dan jika menjadi imam tambahkan kata imaman sebelum lillahi ta’ala.

Langkah 2: Takbiratul Ihram

Mengangkat kedua tangan sejajar dengan telinga (ujung jari sejajar pucuk telinga dan ibu jari sejajar daun telinga bawah) seraya mengucapkan:

اللهُ أَكْبَرُ

Transliterasi: Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Bersamaan dengan dimulainya huruf alif hingga huruf ra’ pada lafaz takbir, hati menghadirkan niat menyengaja sholat fardhu karena Allah SWT.

Langkah 3: Bersedekap dan Membaca Doa Iftitah

Meletakkan tangan kanan di atas punggung pergelangan tangan kiri di antara pusar dan dada (bersedekap). Disunnahkan membaca doa iftitah masyhur riwayat Imam Ali bin Abi Thalib RA dan Imam Asy-Syafi’i:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا ، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ، وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Transliterasi Santri Latin: Allahu Akbaru kabira, walhamdu lillahi katsira, wa subhanallahi bukrataw wa ashila. Wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardha hanifam muslimaw wa ma ana minal musyrikin. Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin, la syarika lahu wa bidzalika umirtu wa ana minal muslimin.

Arti Terjemahan: “Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-banyaknya, dan Maha Suci Allah pada waktu pagi dan petang. Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kelurusan dan berserah diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah aku diperintahkan, dan aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri.”

Langkah 4: Membaca Surat Al-Fatihah dan Surat Pendek

Membaca surat Al-Fatihah adalah rukun qauli yang wajib dibaca pada setiap rakaat. Dalam madzhab Syafi’i, ayat basmalah (Bismillahir rahmanir rahim) merupakan ayat pertama dari Al-Fatihah yang wajib dibaca secara sempurna beserta seluruh 14 huruf tasydidnya.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ۝ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ۝ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ۝ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ۝ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ۝ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Setelah selesai membaca Al-Fatihah, disunnahkan berhenti sejenak lalu mengucap Aamiin (Ya Allah kabulkanlah doa kami). Pada rakaat pertama dan kedua, disunnahkan membaca ayat atau surat pendek Al-Qur’an (seperti surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, atau ayat lainnya).

Langkah 5: Ruku’ Disertai Thuma’ninah

Mengangkat tangan seraya takbir intiqal (Allahu Akbar), lalu membungkukkan badan hingga punggung rata sejajar dengan leher dan kedua telapak tangan menggenggam lutut dengan jemari sedikit renggang. Berhenti diam sejenak dengan tenang (thuma’ninah) sekadar membaca tasbih, lalu membaca tasbih ruku’ sebanyak tiga kali:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ

Transliterasi: Subhana rabbiyal ‘azhimi wa bihamdih (3 kali).
Arti: “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung dan dengan memuji kepada-Nya.”

Langkah 6: I’tidal Disertai Thuma’ninah

Bangkit dari ruku’ menuju posisi berdiri tegak lurus seraya mengangkat kedua tangan dan melafalkan tasmi’:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

Transliterasi: Sami’allahu liman hamidah (Allah mendengar orang yang memuji-Nya). Setelah berdiri tegak dengan thuma’ninah dan menurunkan tangan ke samping badan secara wajar, membaca doa tahmid:

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

Transliterasi: Rabbana lakal hamdu mil’us samawati wa mil’ul ardhi wa mil’u ma syi’ta min syai’in ba’du.
Arti: “Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit, sepenuh bumi, dan sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki sesudah itu.”

Langkah 7: Sujud Pertama Disertai Thuma’ninah

Turun menuju sujud seraya melafalkan takbir tanpa mengangkat tangan. Menempelkan tujuh anggota sujud secara kokoh ke lantai: dahi yang terbuka tanpa penghalang rambut/kain, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan jemari kedua kaki yang ditekuk menghadap kiblat. Diam sejenak dengan thuma’ninah seraya membaca tasbih sujud tiga kali:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

Transliterasi: Subhana rabbiyal a’la wa bihamdih (3 kali).
Arti: “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi dan dengan memuji kepada-Nya.”

Langkah 8: Duduk di Antara Dua Sujud Disertai Thuma’ninah

Bangkit dari sujud seraya mengucap takbir dan duduk dalam posisi iftirasy (menduduki telapak kaki kiri yang dibentangkan dan menegakkan telapak kaki kanan dengan jemari ditekuk menghadap kiblat). Meletakkan kedua telapak tangan di atas paha dekat lutut seraya membaca doa penuh permohonan:

رَبِّ اغْفِرْ لِي ، وَارْحَمْنِي ، وَاجْبُرْنِي ، وَارْفَعْنِي ، وَارْزُقْنِي ، وَاهْدِنِي ، وَعَافِنِي ، وَاعْفُ عَنِّي

Transliterasi: Rabbighfirli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa ‘afini wa’fu ‘anni.
Arti: “Ya Tuhanku, ampunilah aku, sayangilah aku, tutuplah kekurangan-kekuranganku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, berilah aku petunjuk, sehatkanlah aku, dan maafkanlah kesalahanku.”

Langkah 9: Sujud Kedua Disertai Thuma’ninah

Kembali sujud kedua dengan tata cara dan bacaan tasbih yang sama persis seperti pada sujud pertama. Setelah sujud kedua, rakaat pertama telah selesai secara sempurna.

Langkah 10: Bangkit Mengerjakan Rakaat Berikutnya

Bangkit berdiri seraya takbir intiqal untuk mengerjakan rakaat kedua. Disunnahkan duduk istirahat sejenak (jalsatul istirahah) sebelum berdiri tegak. Pada rakaat kedua, seluruh gerakan dari membaca Al-Fatihah hingga sujud kedua diulang sama seperti rakaat pertama.

Langkah 11: Duduk Tasyahhud Awal (Sholat 3 dan 4 Rakaat)

Pada sholat Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya, setelah sujud kedua pada rakaat kedua, disunnahkan duduk tasyahhud awal dalam posisi iftirasy. Hukum tasyahhud awal adalah Sunnah Ab’adh (sunnah yang sangat dianjurkan dan diganti dengan sujud sahwi jika terlupa). Teks bacaan tasyahhud awal:

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Transliterasi: Attahiyyatul mubarakatus shalawatut thayyibatu lillah. Assalamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh. Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahis shalihin. Asyhadu an la ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad.

Saat mengucapkan lafaz syahadat illallah, disunnahkan mengangkat jari telunjuk tangan kanan seraya memandangnya hingga bangkit ke rakaat berikutnya.

Langkah 12: Duduk Tasyahhud Akhir dan Shalawat Ibrahimiyyah

Pada rakaat terakhir (rakaat ke-2 sholat Subuh, rakaat ke-3 Maghrib, rakaat ke-4 Dzuhur/Ashar/Isya), setelah sujud kedua, wajib duduk untuk tasyahhud akhir. Posisi duduk yang disunnahkan adalah Tawarruk (memasukkan telapak kaki kiri di bawah tulang kering betis kanan, menegakkan telapak kaki kanan, dan mendudukkan pantat langsung ke lantai). Duduk tasyahhud akhir, membaca tasyahhud akhir, dan membaca shalawat atas Nabi SAW adalah rukun sholat yang wajib ditunaikan.

Bacaan tasyahhud akhir disempurnakan dengan Shalawat Ibrahimiyyah:

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Arti Terjemahan: “Segala kehormatan yang penuh berkah, rahmat dan kebaikan adalah milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkah-Nya tercurah kepadamu wahai Nabi. Semoga keselamatan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan kepada keluarga junjungan kami Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada junjungan kami Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Dan berkahilah junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkahi Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Di seluruh alam semesta, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

Langkah 13: Doa Perlindungan Sebelum Salam (Sunnah)

Sebelum mengucapkan salam, disunnahkan memohon perlindungan dari empat fitnah sebagaimana hadits shahih riwayat Abu Hurairah RA (HR. Muslim No. 588):

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Allahumma inni a’udzu bika min ‘adzabi jahannam, wa min ‘adzabil qabri, wa min fitnatil mahya wal mamati, wa min syarri fitnatil masihid dajjal.” (Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari keburukan fitnah Dajjal”).

Langkah 14: Salam Penutup

Mengucapkan salam pertama seraya menolehkan wajah ke arah kanan hingga pipi terlihat dari belakang:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Transliterasi: Assalamu’alaikum warahmatullah (Semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah kepada kalian). Mengucapkan salam pertama ke kanan berstatus rukun qauli yang menandakan selesainya sholat secara syar’i. Selanjutnya disunnahkan menoleh ke arah kiri seraya mengucapkan salam kedua yang berstatus sunnah haiat.

Langkah 15: Tertib

Mengerjakan seluruh rukun dari nomor 1 hingga nomor 14 secara urut berkesinambungan tanpa menukar posisi rukun (seperti sujud mendahului ruku’). Tertib adalah rukun ma’nawi yang menjamin keutuhan ibadah.

Fiqih Qunut Subuh dalam Madzhab Syafi’i

Dalam madzhab Syafi’i, membaca doa qunut pada rakaat kedua sholat Subuh saat berdiri i’tidal setelah membaca tasmi’ dan tahmid berstatus Sunnah Ab’adh. Jika imam atau orang yang sholat sendirian lupa membaca qunut, sholatnya tetap sah namun disunnahkan melakukan sujud sahwi sebelum mengucapkan salam pertama.

Dalil pensyariatan qunut Subuh bersumber dari hadits sahabat Anas bin Malik RA:

مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا

“Rasulullah SAW senantiasa membaca qunut pada sholat Subuh hingga beliau meninggalkan dunia.” (HR. Ahmad No. 12679, Al-Bazzar, dan Ad-Daraquthni; dishahihkan oleh Al-Hafizh Al-Baihaqi dan Imam An-Nawawi).

Berikut teks doa qunut Subuh lengkap:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ ، فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ ، فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Transliterasi Santri Latin: Allahummahdini fi man hadait, wa ‘afini fi man ‘afait, wa tawallani fi man tawallait, wa barik li fi ma a’thait, wa qini syarra ma qadhait, fa innaka taqdhi wa la yuqdha ‘alaik, wa innahu la yadzillu maw walait, wa la ya’izzu man ‘adait, tabarakta rabbana wa ta’alait, fa lakal hamdu ‘ala ma qadhait, astaghfiruka wa atubu ilaik, wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin-nabiyyil ummiyyi wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

Jika bertindak sebagai imam, lafaz dhommir tunggal (-ni) diganti menjadi jamak (-na), contoh: Allahummahdina fiman hadait… agar doa mencakup seluruh makmum yang mengaminkan di belakangnya. Para ulama mengajarkan sikap tasamuh (toleran dan saling menghormati) jika sholat di belakang imam madzhab lain (seperti madzhab Hanafi atau Hanbali) yang tidak membaca qunut subuh, di mana makmum Syafi’i tetap sah mengikuti sholat imam tersebut tanpa perlu berselisih paham.

Dzikir dan Doa Ma’tsur Sesudah Sholat Fardhu

Seusai mengucapkan salam penutup, disunnahkan tidak langsung beranjak pergi melainkan berdiam sejenak membaca rangkaian dzikir ma’tsur yang diajarkan Rasulullah SAW:

  1. Membaca Istighfar 3 kali: Astaghfirullahal ‘azhim alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyumu wa atubu ilaih.
  2. Membaca doa keselamatan: Allahumma antas salam wa minkas salam tabarakta ya dzal jalali wal ikram.
  3. Membaca kalimat tauhid: La ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumitu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir.
  4. Membaca Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah: 255) yang fadhilahnya menjadi sebab jaminan surga bagi yang membacanya seusai sholat fardhu (HR. An-Nasa’i).
  5. Membaca Tasbih (Subhanallah 33x), Tahmid (Alhamdulillah 33x), Takbir (Allahu Akbar 33x), dan disempurnakan menjadi genap 100 dengan kalimat tahlil.
  6. Memanjatkan doa permohonan ampunan dosa kedua orang tua, keselamatan agama, keberkahan rezeki, dan husnul khatimah.

Tanya Jawab Fiqih Seputar Sholat Fardhu (FAQ)

1. Bagaimana jika seseorang lupa mengerjakan ruku’ dan baru teringat saat sedang sujud?
Sujud yang sedang dilakukan tidak sah karena urutannya melompat. Orang tersebut wajib langsung bangkit kembali berdiri tegak dan mengerjakan ruku’ dengan thuma’ninah, melanjutkan i’tidal, sujud, dan rakaat selanjutnya secara tertib, kemudian disunnahkan sujud sahwi sebelum salam di akhir sholat.

2. Mengapa thuma’ninah diwajibkan dan menjadi penentu sahnya sholat?
Thuma’ninah adalah diam sejenak dengan tenang setelah seluruh persendian menetap pada posisinya minimal sekadar ucapan tasbih. Tanpa thuma’ninah, sholat akan menjadi gerakan kilat mematuk yang dilarang keras oleh Rasulullah SAW sebagaimana dalam hadits al-musi’u shalatahu.

3. Apakah sah sholat orang yang tidak hafal doa iftitah?
Sholatnya tetap sah 100%, karena membaca doa iftitah berstatus Sunnah Hai’ah. Jika tidak hafal atau terlewat langsung membaca Al-Fatihah, sholat tidak batal dan tidak perlu melakukan sujud sahwi.

4. Bagaimana hukum sholat bagi orang yang tidak mampu berdiri karena sakit?
Kewajiban berdiri gugur bagi orang yang memiliki udzur sakit berat. Ia boleh sholat sambil duduk dengan membungkukkan badan untuk ruku’ dan sujud (sujud lebih rendah daripada ruku’). Jika tidak mampu duduk, boleh sholat sambil berbaring miring menghadap kiblat, atau berbaring terlentang dengan kepala sedikit diangkat menghadap kiblat.

5. Apa perbedaan antara masbuk dan muwaffiq dalam sholat berjamaah?
Muwaffiq adalah makmum yang memiliki waktu cukup bersama imam untuk membaca Al-Fatihah secara sempurna. Sedangkan masbuk adalah makmum yang mendapati imam sudah ruku’ atau mendapati waktu berdiri yang sangat sempit sehingga tidak sempat menyelesaikan bacaan Al-Fatihah; jika ia sempat ruku’ bersama imam dengan thuma’ninah sebelum imam bangkit i’tidal, ia tetap terhitung mendapatkan satu rakaat penuh tersebut.

Menegakkan rukun sholat diawali dengan memastikan masuknya waktu sholat melalui jadwal waktu sholat yang akurat di daerah masing-masing.

Kajian & Waktu Terkait:

  • Sebelum melaksanakan fardhu subuh, umat muslim disunnahkan menunaikan sholat fajar dua rakaat yang memiliki keutamaan melampaui dunia dan seisinya.
  • Di waktu malam sebelum subuh, seorang hamba dapat melatih kekhusyukan batin dengan mempelajari cara sholat tahajud dan witir.
  • Selain fardhu ‘ain lima waktu, umat Islam juga mengemban kewajiban fardhu kifayah melalui bimbingan cara sholat jenazah.
  • Amalan sholat fardhu disempurnakan dengan melaksanakan rangkaian sholat rawatib qobliyah dan ba’diyah.

Kajian Fiqih Ibadah Terkait

Untuk melengkapi kesempurnaan ibadah sholat dan jadwal harian Anda, pelajari kajian-kajian pendukung berikut: