Seusai kumandang adzan selesai diperdengarkan oleh muadzin, waktu tidak lantas berlalu begitu saja tanpa nilai ibadah. Justru pada detik-detik itulah pintu-pintu rahmat langit dibuka selebar-lebarnya oleh Allah SWT bagi setiap hamba yang menyambut panggilan-Nya dengan penuh takzim. Baginda Nabi Muhammad SAW memberikan bimbingan agung agar setiap muslim yang mendengar seruan adzan segera melafalkan shalawat dan memanjatkan doa sesudah adzan. Di samping bacaan pokok yang termaktub dalam hadits-hadits shahih, rentang waktu antara adzan dan iqomah merupakan salah satu momentum paling mustajab di mana doa-doa yang dipanjatkan tidak akan pernah ditolak oleh Allah SWT.
Landasan Al-Qur’an dan Sunnah Mengenai Doa dan Dzikir
Berdoa kepada Allah SWT merupakan inti dari penghambaan seorang insan. Di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 186, Allah SWT menegaskan betapa dekatnya Dia kepada hamba-hamba-Nya yang berdoa dengan penuh ketulusan:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186). Ayat mulia ini menjadi fondasi kokoh bahwa setiap kali panggilan iman diserukan, seorang muslim dianjurkan menyambutnya dengan ketaatan lalu bersimpuh memanjatkan munajat.
Adab dan Amalan Sebelum Adzan Berkumandang
Sebelum menguraikan amalan setelah adzan, syariat Islam mengajarkan ketertiban adab semenjak awal. Banyak jamaah yang menanyakan perihal apa saja bacaan sebelum adzan, bacaan muadzin sebelum adzan, serta bacaan tasbih sebelum adzan yang lazim dilantunkan di surau dan masjid Nusantara.
Dalam kitab I’anatut Thalibin karya Sayyid Abu Bakar Syatha (Juz 1, hal. 235), diterangkan bahwa seorang muadzin disunnahkan berwudhu secara sempurna, menghadap kiblat dengan tenang, dan melafalkan doa atau bacaan tasbih sebelum adzan berupa istighfar, tasbih, dan shalawat secara perlahan untuk menenangkan hati. Pada momentum fajar, terdapat amalan tarhim atau bacaan sebelum adzan subuh yang bertujuan membangunkan umat agar bersiap tahajud, bersahur, atau bergegas menuju masjid. Demikian pula pada hari Jumat, bacaan sebelum adzan jumat diisi dengan shalawat, dzikir, dan tadarrus ringan tanpa mengeraskan suara yang berlebihan agar tidak mengganggu jamaah yang tengah menunaikan sholat sunnah tahiyyatul masjid.
Urutan Tertib Amalan Ketika dan Setelah Adzan Selesai
Untuk memperoleh keutamaan ruhiyah yang sempurna, para ulama madzhab Syafi’i menyusun langkah-langkah amalan secara tertib sejak muadzin mulai bersuara hingga sholat ditegakkan:
- Mendengarkan dan Menirukan Lafaz Adzan: Melafalkan bacaan saat adzan dan bacaan mendengar adzan dengan mengulang bait muadzin secara cermat. Inilah bacaan ketika mendengar adzan yang menjadi sunnah muakkadah, termasuk bacaan menjawab adzan dan bacaan menjawab adzan subuh (tatswib) yang sarat makna.
- Melafalkan Kalimat Syahadat dan Ridha: Ketika muadzin mengumandangkan dua kalimat syahadat, disunnahkan membaca doa khusus pelebur dosa sebagaimana riwayat Shahih Muslim.
- Membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW: Begitu kalimat tahlil terakhir selesai, sesudah adzan disunahkan membaca shalawat Ibrahimiyyah atau shalawat ma’tsur. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim (No. 384): “Apabila kalian mendengar muadzin mengumandangkan adzan, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan, kemudian bershalawatlah kepadaku, karena sesungguhnya barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.”
- Melafalkan Doa Wasilah (Doa Sesudah Adzan): Membaca doa pokok yang diajarkan oleh Rasulullah SAW sebagai bacaan setelah adzan atau bacaan sesudah adzan. Doa ini memohonkan maqam terpuji bagi Baginda Nabi SAW.
- Mendirikan Sholat Sunnah Rawatib: Setelah adzan dikumandangkan dianjurkan untuk mendirikan sholat sesudah adzan atau shalat setelah adzan, yaitu sholat sunnah qabliyah (seperti qabliyah Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, maupun Isya). Sholat setelah adzan di masjid memiliki keutamaan shaf pertama dan ganjaran menanti sholat berjamaah.
- Memperbanyak Doa Pribadi: Mengoptimalkan jeda antara adzan dan iqomah untuk memohon ampunan, kesehatan, rezeki barakah, dan keselamatan keluarga karena pada waktu inilah doa tidak tertolak.
Bacaan Dzikir Khusus Saat Mendengar Syahadat Adzan
Banyak yang belum mengetahui bahwa ada bacaan yang sangat dianjurkan dibaca tepat saat muadzin melafalkan dua kalimat syahadat atau sesaat setelahnya sebelum membaca doa wasilah panjang. Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash RA meriwayatkan dari Rasulullah SAW:
وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا
Transliterasi Latin:
Wa ana asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi rabba, wa bi muhammadin rasula, wa bil islami dina.
Artinya:
“Dan aku pun bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Nabi Muhammad sebagai utusan-Ku, dan Islam sebagai agamaku.”
Rasulullah SAW menegaskan dalam hadits Shahih Muslim (No. 386) bahwa barang siapa membaca kalimat keridhaan ini ketika mendengar muadzin, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Para ulama Syafi’iyyah menganjurkan membaca doa ini tepat setelah muadzin menyelesaikan bait syahadat atau sesaat sebelum muadzin melantunkan hay’alah.
Teks Lengkap Doa Sesudah Adzan: Arab, Latin, dan Terjemah
Berikut adalah bacaan setelah mendengar adzan yang paling utama dan shahih, sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah RA dalam kitab Shahih Al-Bukhari (No. 614):
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ
Transliterasi Latin Santri:
Allahumma rabba hadzihid da’watit tammah, wash-shalatil qa’imah, ati muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqamam mahmudanil ladzi wa’adtah.
Di kalangan umat Islam Indonesia, lafaz pembuka ini sangat populer dicari dengan ejaan allahumma robba hadzihid da watit. Pembacaan dengan tajwid yang tertib dan makhraj yang benar akan menambah kekhidmatan doa.
Artinya:
“Ya Allah, Tuhan Pemilik seruan yang sempurna ini (adzan) dan sholat yang senantiasa ditegakkan, berikanlah kepada junjungan kami Nabi Muhammad kedudukan wasilah dan keutamaan, serta bangkitkanlah beliau pada tempat terpuji (al-maqam al-mahmud) yang telah Engkau janjikan kepadanya.”
Kajian Fiqih Lafaz Tambahan dalam Doa Sesudah Adzan
Banyak kalangan santri dan jamaah masjid Nusantara melafalkan doa sesudah adzan dengan menyisipkan lafaz tambahan pada bagian akhir: «إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ» (Innaka la tukhliful mi’ad – “Sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji”). Riwayat ini termaktub dalam kitab As-Sunan Al-Kubra karya Imam Al-Baihaqi (Juz 1, hal. 410).
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab (Juz 3, hal. 131) serta Sayyid Abu Bakar Syatha dalam I’anatut Thalibin (Juz 1, hal. 248) menerangkan bahwa penambahan kalimat tersebut adalah baik (*hasan*) dan boleh diamalkan karena memiliki jalur periwayatan yang saling menguatkan serta sanjungan yang selaras dengan ayat Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran ayat 194. Sebagian ulama juga menambahkan doa penutup seperti permohonan derajat yang tinggi: «وَالدَّرَجَةَ الرَّفِيعَةَ» (wad-darajatar rafi’ah) serta permohonan rahmat: «يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ» (ya arhamar rahimin). Penambahan sanjungan yang benar maknanya dalam doa tidak dipandang sebagai bid’ah terlarang melainkan bagian dari ketakziman kepada Baginda Nabi SAW.
Bedah Makna Filosofis Doa Wasilah
Memahami kandungan makna doa sesudah adzan akan menghadirkan kekhusyukan mendalam tatkala lisan melafalkannya:
- Ad-Da’watut Tammah (Seruan yang Sempurna): Adzan disebut sebagai seruan sempurna karena di dalamnya terkandung kalimat tauhid murni yang bersih dari syirik, mengagungkan asma Allah, menegaskan risalah kenabian, dan mengajak manusia menuju kemenangan sejati (*falah*). Tiada seruan di muka bumi yang lebih mulia dan utuh daripada kalimat adzan.
- Ash-Shalatul Qa’imah (Sholat yang Ditegakkan): Menunjukkan bahwa ibadah sholat adalah tiang agama yang senantiasa hidup dan tegak sepanjang masa hingga hari kiamat, tidak pernah terputus pergantian siang dan malam.
- Al-Wasilah (Derajat Tertinggi di Surga): Kedudukan istimewa di dalam surga yang tidak layak diberikan kecuali kepada satu orang hamba pilihan Allah, dan Rasulullah SAW berharap beliaulah hamba tersebut. Ketika umat mendoakan wasilah untuk beliau, umat tersebut berhak mendapatkan syafaat beliau di hari mahsyar.
- Al-Fadhilah (Keutamaan Mutlak): Keutamaan derajat melampaui seluruh makhluk ciptaan Allah SWT, baik para malaikat muqarrabin maupun para nabi dan rasul lainnya.
- Al-Maqam Al-Mahmud (Tempat Terpuji): Kedudukan agung di mana seluruh umat manusia dari generasi awal hingga akhir memuji Baginda Nabi SAW pada hari kiamat ketika beliau memberikan Syafa’at Al-Uzhma di hadapan mahkamah keadilan Ilahi.
Doa Khusus Sesudah Adzan Subuh dan Maghrib
Selain doa wasilah umum di atas, terdapat doa ma’tsur yang sangat dianjurkan sebagai bacaan setelah adzan subuh atau bacaan sesudah adzan subuh. Dalam kitab Al-Adzkar An-Nawawiyyah, Imam An-Nawawi mengetengahkan riwayat dari sahabat Ummu Salamah RA bahwa Rasulullah SAW mengajarkan doa ketika fajar menyingsing:
اللَّهُمَّ هَذَا إِقْبَالُ نَهَارِكَ، وَإِدْبَارُ لَيْلِكَ، وَأَصْوَاتُ دُعَاتِكَ، فَاغْفِرْ لِي
Transliterasi Latin:
Allahumma hadza iqbalu naharika, wa idbaru laylika, wa ashwatu du’atika, faghfir li.
Artinya:
“Ya Allah, inilah saat datangnya siang-Mu, dan saat berlalunya malam-Mu, dan saat terdengarnya suara para penyeru-Mu (muadzin), maka ampunilah segala dosaku.” (HR. Abu Dawud No. 530 dan At-Tirmidzi No. 3589). Doa ini dibaca tepat saat mentari pagi bersiap merekah mengusir pekatnya malam.
Adapun ketika adzan Maghrib berkumandang, redaksi doa tersebut disesuaikan dengan datangnya malam: «اللَّهُمَّ هَذَا إِقْبَالُ لَيْلِكَ وَإِدْبَارُ نَهَارِكَ وَأَصْوَاتُ دُعَاتِكَ فَاغْفِرْ لِي» (Allahumma hadza iqbalu laylika, wa idbaru naharika, wa ashwatu du’atika, faghfir li). Inilah doa peralihan waktu dari terang benderangnya siang menuju ketenangan malam, mengingatkan hamba akan perjalanan umur yang kian mendekati akhirat.
Fadhilah Membaca Doa Setelah Adzan: Jaminan Syafaat Nabi SAW
Keutamaan mengamalkan bacaan habis adzan ini sangat besar dan bernilai abadi. Rasulullah SAW memberikan jaminan syafaat yang pasti bagi hamba yang merutinkan bacaan ini dengan ikhlas dan penuh mahabbah:
مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ… حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa yang membaca ketika mendengar seruan adzan: Allahumma rabba hadzihid da’watit tammah… niscaya halal baginya syafaatku pada hari kiamat.” (HR. Bukhari No. 614). Para pensyarah hadits menjelaskan bahwa kalimat “hallat lahu syafa’ati” bermakna orang tersebut wajib memperoleh pertolongan khusus Baginda Nabi SAW di padang mahsyar, diringankan hisabnya, dan dimudahkan langkahnya menuju kenikmatan surga.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menambahkan bahwa syafaat Rasulullah SAW bermacam-macam tingkatan. Ada syafaat agar seseorang dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab, ada syafaat agar dibebaskan dari siksa neraka, dan ada pula syafaat untuk mengangkat derajat surga ke tingkatan yang lebih tinggi. Pembaca doa wasilah sesudah adzan memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan Rasulullah SAW sehingga beliau akan mengenali dan menolongnya kelak.
Keistimewaan Waktu Mustajab Antara Adzan dan Iqomah
Setelah seseorang selesai melafalkan bacaan setelah adzan, terbentanglah rentang waktu emas yang sangat mulia. Jeda waktu antara adzan dan iqomah adalah saat di mana tirai penghalang doa disingkapkan. Sahabat Anas bin Malik RA meriwayatkan sabda Rasulullah SAW:
الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ
“Doa itu tidak akan pernah ditolak antara adzan dan iqomah.” Ketika para sahabat bertanya tentang apa yang sebaiknya dipanjatkan, beliau SAW bersabda: “Mohonlah kepada Allah keselamatan dan kesejahteraan (al-‘afiyah) di dunia dan akhirat.” (HR. At-Tirmidzi No. 212 dan Abu Dawud No. 521, hadits shahih).
Momentum ini hendaknya diisi dengan munajat pribadi, istighfar, membaca Al-Qur’an, atau mendirikan sholat sunnah rawatib qabliyah. Amat disayangkan apabila jeda beberapa menit yang amat berharga ini terbuang percuma untuk membicarakan urusan duniawi atau tersita oleh gawai. Di masjid-masjid kampung Nusantara, jeda waktu ini diisi dengan melantunkan syair pujian dan shalawat bersama guna menanti kehadiran jamaah sholat.
Amalan Sholat Sunnah Setelah Adzan Berkumandang
Banyak pertanyaan mengenai hukum dan tata cara sholat setelah adzan. Secara umum, setiap selesai adzan disyariatkan sholat sunnah dua rakaat, baik itu sholat sunnah rawatib muakkadah (seperti qabliyah Subuh dan Dzuhur) maupun sholat sunnah ghairu muakkadah (seperti qabliyah Ashar, Maghrib, dan Isya). Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Abdullah bin Mughaffal RA:
بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ، بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ، لِمَنْ شَاءَ
“Di antara setiap dua adzan (yakni antara adzan dan iqomah) terdapat sholat sunnah, di antara setiap dua adzan terdapat sholat sunnah, bagi siapa saja yang menghendakinya.” (HR. Bukhari No. 627 dan Muslim No. 838). Sholat sesudah adzan ini berfungsi sebagai penyempurna kekhusyukan dan persiapan batin sebelum memasuki sholat fardhu berjamaah.
Adab Mendengarkan Adzan di Era Modern
Di era kemajuan teknologi dan kesibukan modern saat ini, adab mendengarkan adzan kerap menghadapi tantangan tersendiri. Para ulama fiqih memberikan tuntunan tata krama bersikap saat suara muadzin berkumandang:
- Ketika Berada di Tempat Kerja atau Rapat: Apabila memungkinkan, jeda sejenak pembicaraan selama 3-4 menit untuk menyimak adzan dan menjawab bait-baitnya. Apabila berada dalam rapat genting yang tidak dapat dihentikan, hati hendaknya tetap berdzikir dan menyambut seruan sholat begitu waktu memungkinkan.
- Ketika Sedang Tilawah Al-Qur’an: Disunnahkan menghentikan sementara bacaan Al-Qur’an untuk mendengarkan dan menjawab adzan. Hal ini karena menjawab adzan adalah ibadah yang terikat oleh waktu sempit (*ibadah mu’aqqatah*), sedangkan membaca Al-Qur’an dapat dilanjutkan kembali kapan saja seusai adzan.
- Adab Penggunaan Gawai dan Telepon Genggam: Hentikan sejenak aktivitas mengetik pesan atau berselancar di media sosial. Letakkan gawai dan arahkan pendengaran kepada kalimat tauhid yang dikumandangkan dari menara masjid.
- Ketika Mendengar Adzan dari Televisi atau Rekaman: Sebagian ulama berpendapat jika siaran tersebut bersifat langsung (*live*), disunnahkan menjawabnya. Namun jika siaran tersebut berupa rekaman ulang di luar waktu sholat, tidak disunnahkan menjawabnya.
Waktu mustajab doa ini terbuka setiap kali masuknya jadwal adzan 5 waktu di tengah masyarakat.
Kajian & Waktu Terkait:
- Sebelum memanjatkan doa wasilah, umat muslim dianjurkan menuntaskan cara menjawab adzan secara sempurna sesuai sunnah.
- Di berbagai masjid Nusantara, momentum ini kerap diisi dengan lantunan pujian setelah adzan yang menyejukkan hati para jamaah.
- Rasulullah saw menegaskan keutamaan memanjatkan permohonan pada waktu antara adzan dan iqomah karena doa di waktu tersebut tidak tertolak.
Tanya Jawab Seputar Amalan Sesudah Adzan
| Pertanyaan Umat | Penjelasan Fiqih Madzhab Syafi’i |
|---|---|
| Apakah membaca doa setelah adzan dianjurkan mengangkat kedua tangan? | Ya, mengangkat kedua tangan ketika berdoa merupakan sunnah umum yang dianjurkan dalam madzhab Syafi’i, termasuk saat membaca doa wasilah sesudah adzan, sebagaimana keterangan dalam Nihayatul Muhtaj dan Fathul Mu’in. |
| Bagaimana hukumnya jika muadzin mengumandangkan adzan saat kita sedang sholat? | Orang yang sedang sholat tidak boleh menjawab adzan dengan lisannya karena dapat membatalkan sholat. Ia dianjurkan menjawab di dalam hati, atau melafalkan jawaban adzan dan doa sesudah adzan segera setelah salam. |
| Apakah muadzin sendiri disunnahkan membaca doa sesudah adzan? | Ya, muadzin disunnahkan bershalawat dan membaca doa wasilah dengan suara lirih (*sirr*) setelah menyelesaikan adzannya, sama seperti jamaah yang mendengarkannya. |
| Apa yang sebaiknya dilakukan jika tertinggal menjawab adzan? | Jika jeda waktu belum terlalu lama (*fashl qashir*), disunnahkan mengqadha jawaban adzan dan melafalkan doa sesudah adzan. Namun jika jeda waktu sudah terlalu lama, kesunnahannya telah luput. |
| Apakah doa wasilah adzan dibaca setelah iqomah juga? | Menurut keterangan para ulama fiqih, doa wasilah disyariatkan khusus setelah adzan dan iqomah. Namun pada iqomah, jeda waktu sholat fardhu sangat singkat sehingga imam langsung merapikan saf dan takbiratul ihram. |
Untuk memeriksa ketepatan waktu masuk sholat 5 waktu di seluruh kabupaten dan kota se-Indonesia, Anda dapat memantau jadwal terkini pada Portal Jadwal Adzan Hari Ini, mempelajari kaifiyah tuntunan menjawab adzan, serta memahami ketentuan fiqih iqomah sholat pada rubrik fiqih redaksi kami.