Tradisi melantunkan syair pujian setelah adzan di masjid dan mushalla Nusantara adalah amaliyah keagamaan yang masyru’ (disyariatkan) berlandaskan keumuman dalil Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyyah tentang anjuran memperbanyak shalawat, dzikir, dan doa di waktu mustajab antara adzan dan iqomah. Warisan dakwah para wali penyebar Islam di tanah Jawa dan Sunda ini tidak hanya berfungsi menyemarakkan syiar Islam di surau-surau kampung, tetapi juga menjadi sarana menunggu jamaah berkumpul (intidharul jama’ah) serta media penanaman aqidah dan akhlak yang mengakar kuat di hati masyarakat muslim lintas generasi.
Landasan Syariat dan Dalil Keabsahan Bersyair di Rumah Ibadah
Tuduhan sebagian kalangan yang menganggap lantunan pujian setelah adzan sebagai perbuatan terlarang terbantahkan secara ilmiah oleh literatur mu’tamad madzhab Syafi’i dan hadits-hadits shahih. Dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 56, Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa melantunkan shalawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW tanpa pembatasan waktu yang kaku:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56). Ayat mulia ini menjadi dalil payung bahwa melantunkan pujian sesudah adzan dan pujian sholat yang berisi sanjungan kepada Rasulullah SAW merupakan wujud ketaatan langsung terhadap titah Ilahi.
Keabsahan melantunkan syair di dalam masjid ditegaskan dalam hadits shahih riwayat Sayyidah Aisyah RA dan sahabat mulia Abu Hurairah RA mengenai sahabat Nabi, Hassan bin Tsabit RA:
أَنَّ حَسَّانَ بْنَ ثَابِتٍ كَانَ يُنْشِدُ الشِّعْرَ فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَرَسُولُ اللَّهِ يَسْمَعُ وَيَقُولُ: اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ
“Bahwasanya Hassan bin Tsabit biasa melantunkan bait-bait syair di masjid Rasulullah SAW, sementara Rasulullah SAW mendengarkannya dan berdoa: ‘Ya Allah, kuatkanlah ia dengan Malaikat Jibril (Ruhul Qudus)’.” (HR. Bukhari No. 453 dan Muslim No. 2485). Hadits ini menjadi landasan qath’i bahwa melantunkan bait syair yang berisi puji-pujian, tauhid, dan nasehat kebajikan di dalam masjid hukumnya mubah bahkan sunnah bila diniatkan untuk syiar kebaikan.
Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Al-Hawi lil Fatawi serta Sayyid Abu Bakar Syatha dalam I’anatut Thalibin (Juz 1, hal. 249) menegaskan bahwa memperdengarkan dzikir dan shalawat dengan nada indah di antara adzan dan iqomah tidak bertentangan dengan sunnah. Hal ini diperkuat kaidah ushul fiqih yang sangat mashur di kalangan ulama Nusantara: Al-Ashlu fil asy-ya’i al-ibahah hatta yadulla ad-dalilu ‘alat tahrim (Hukum asal segala sesuatu dalam muamalah dan wasilah dakwah adalah boleh hingga ada dalil khusus yang mengharamkannya), serta kaidah Al-‘Adah muhakkamah (Adat kebiasaan masyarakat yang baik dapat dijadikan pijakan pertimbangan hukum syariat).
Sejarah Dakwah Walisongo dan Fungsi Sosiologis Pujian Masjid
Secara historis, tradisi pujian jawa setelah adzan diinisiasi oleh para Walisongo, khususnya Kanjeng Sunan Kalijaga dan Kanjeng Sunan Bonang, ketika menyebarkan Islam di tanah Jawa pada abad ke-15 hingga ke-16 Masehi. Pada masa itu, masyarakat pribumi sangat akrab dengan tembang macapat dan kidung sastra Jawa. Para wali mengkonversi media tersebut menjadi sarana dakwah tauhid yang halus, santun, dan menyentuh kalbu tanpa merusak tatanan syariat.
Dalam konteks sosiologis kemasyarakatan, melantunkan pujian setelah adzan versi jawa memiliki fungsi pokok yang sangat vital bagi dinamika umat:
Khazanah Nadhom Klasik Pesantren dan Analisis Teologis Sastra
Bait-bait nadhom yang dilantunkan di surau-surau desa bukan sekadar untaian kata tanpa makna, melainkan saripati kitab-kitab turats aqidah Asy’ariyyah dan tasawuf Al-Ghazali yang dialihbahasakan ke dalam dialek lokal. Sebagai contoh, tembang legendaris Tombo Ati yang digubah Sunan Bonang merangkum lima pilar pengobatan hati yang bersumber dari nasehat ulama salaf Syafi’iyyah:
“Tombo ati iku lima perkarane / Kaping pisan moco Qur’an lan maknane / Kaping pindo sholat wengi lakonono / Kaping telu wong kang sholeh kumpulono / Kaping papat kudu weteng ingkang luwe / Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe / Salah sawijine sapa bisa ngelakoni / Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani.”
Begitu pula dalam tradisi masyarakat Pasundan di Jawa Barat, syair nadhom Sunda seperti Eling-eling Umat Daek Sholat dilantunkan dengan irama menyayat hati yang mengajak pendengar merenungkan hakikat penciptaan manusia:
“Eling-eling umat muslimin muslimat / Hayu urang sholat berjamaah maghrib / Estu parentah ti Gusti Nu Maha Suci / Pikeun bekel urang jaga di aherat.” Untaian kata puitis ini menembus batasan nalar awam dan meresap langsung ke dalam sanubari umat, menjadi benteng moral yang kokoh di tengah pergeseran budaya modern.
Khazanah Kumpulan Pujian Setelah Adzan Terpopuler di Nusantara
Khazanah puji-pujian masjid sangat melimpah. Mulai dari bait shalawat klasik bahasa Arab hingga nadhom puitis bahasa daerah. Bagi para pegiat takmir masjid, berikut adalah kumpulan pujian setelah adzan yang paling sering dilantunkan di surau-surau pedesaan maupun masjid perkotaan:
| Kategori Pujian | Judul / Teks Awal Syair | Lirik dan Makna Nadhom | Waktu Pelaksanaan Lazim |
|---|---|---|---|
| Pujian Shalawat Masyhur | Pujian setelah adzan allahumma sholli (Shalawat Tibbil Qulub) | Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammadin thibbil qulubi wa dawa-iha, wa ‘afiyatil abdani wa syifa-iha, wa nuril abshari wa dhiya-iha, wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallim (Shalawat penentram dan penyembuh hati) | Sering dilantunkan pada seluruh waktu sholat fardhu berjamaah |
| Pujian Taubat Fajar | Pujian setelah adzan subuh (Syair Abu Nawas / Al-I’tiraf) | Ilahi lastu lil firdausi ahla, wa la aqwa ‘ala naril jahimi, fahab li taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafirudz dzanbil ‘azhimi (Pengakuan dosa seorang hamba di waktu fajar yang hening) | Khusus dilantunkan pada jeda adzan dan iqomah waktu Subuh |
| Pujian Senja Maghrib | Pujian maghrib (Eling-eling Siro Menungso) | Eling-eling siro menungso, elingono anggonmu sholat ngaji, mumpung durung ketekan malaikat juru pati, nyowone ucul tangise getun kepati-pati (Nasehat mengingat maut menjelang gelap malam) | Lazim dilantunkan antara adzan dan iqomah Sholat Maghrib |
| Pujian Pendek Santri | Pujian pendek setelah adzan (Tasbih Kalimat Thayyibah) | La ilaha illallah al-Malikul Haqqul Mubin, Muhammadur Rasulullah Shodiqul Wa’dil Amin (Tiada Tuhan selain Allah Maha Raja Yang Nyata Benar, Nabi Muhammad utusan Allah yang menepati janji) | Cocok untuk masjid yang memiliki jeda iqomah singkat |
| Pujian Syiar Jawa | Syi’ir Tanpo Waton (Gus Dur) & Duh Gusti Kulo Nyuwun Ngapuro | Astagfirullah robbal baroya, astagfirullah minal khotoya, robbi zidni ‘ilman nafi’a, wawaffiqni ‘amalan sholiha… Duh Gusti Kulo Nyuwun Ngapuro, sekabehane duso kulo… | Pujian sesudah adzan pada sholat Isya dan Dzuhur |
Banyak takmir muda saat ini juga menghadirkan aransemen pujian setelah adzan terbaru dan pujian setelah adzan terbaru 2021 yang dibawakan secara acapella tartil oleh anak-anak TPA, memadukan shalawat asyghil dan shalawat nahdliyyah yang menggetarkan sanubari pendengar di sekeliling masjid. Inovasi nada yang tetap bersandar pada kesantunan ini membuktikan bahwa tradisi puji-pujian terus hidup dan beradaptasi tanpa kehilangan ruh syariatnya.
Tinjauan Syariat Seputar Adzan Langgam Jawa dan Cengkok Lokal
Di samping syair nadhom, publik kerap memperbincangkan fenomena adzan langgam jawa atau pelantunan seruan sholat dengan cengkok kedaerahan Nusantara. Bagaimanakah tinjauan fiqih mu’tamad mengenai hal ini?
Para ulama Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (NU) dan fuqaha madzhab Syafi’i dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab serta Tuhfatul Muhtaj menetapkan kaidah tegas mengenai seni suara adzan:
Adab Pengeras Suara dan Regulasi Harmoni Kemasyarakatan
Dalam mengamalkan pujian pujian setelah adzan dan pujian sebelum adzan, takmir masjid dan mushalla dituntut bersikap bijak, arif, dan penuh tepa selira terhadap lingkungan sekitar. Kementerian Agama RI melalui Surat Edaran Menag No. 05 Tahun 2022 telah memberikan tuntunan tertib mengenai penggunaan pengeras suara:
Seruan adzan fardhu dikumandangkan melalui pengeras suara luar agar terdengar oleh warga muslim yang jauh. Namun begitu adzan selesai, lantunan puji-pujian, sholat sunnah qobliyah, dan dzikir menjelang iqomah hendaknya dialihkan ke pengeras suara dalam (internal speaker). Dengan demikian, jamaah di dalam masjid tetap dapat menikmati syahdunya syair shalawat, sementara warga sekitar—termasuk bayi yang sedang tidur, orang yang sedang sakit, atau tetangga non-muslim—tetap merasa nyaman dan tentram. Sikap santun inilah yang menjadi cerminan sejati Islam Rahmatan lil ‘Alamin di bumi Nusantara.
Menjawab Tuduhan Syubhat Bid’ah Secara Ilmiah dan Beradab
Di era keterbukaan informasi, kerap muncul narasi dari sebagian kalangan yang membid’ah-sayyiahkan amaliyah puji-pujian di masjid dengan dalih bahwa Nabi SAW tidak pernah melantunkannya secara berjamaah setelah adzan. Terhadap pandangan ini, para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah memberikan bantahan ilmiah yang kokoh:
Pertama, kaidah fiqih menetapkan bahwa ketiadaan perbuatan Nabi SAW (at-tarku) tidak secara otomatis menunjukkan keharaman suatu perkara (at-tarku la yaqtadhil tahrim). Suatu perkara baru dinilai haram jika bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, ijma’, atau merusak aqidah. Sedangkan puji-pujian berisi shalawat, tasbih, dan nasehat kebajikan yang justru diperintahkan secara mutlak dalam syariat.
Kedua, pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah madzmumah merupakan ijtihad resmi Khalifah Umar bin Al-Khattab RA saat mengumpulkan jamaah sholat tarawih di bawah satu imam (ni’matil bid’atu hadzihi), yang kemudian diformulasikan secara sistematis oleh Imam Syafi’i. Imam Syafi’i menyatakan sebagaimana dikutip oleh Imam Al-Baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi’i:
“Perkara baru terbagi menjadi dua: pertama, apa yang diada-adakan menyalahi Al-Qur’an, Sunnah, atsar, atau ijma’, maka ini adalah bid’ah yang sesat. Kedua, perkara baru yang berupa kebaikan dan tidak menyalahi satupun dari nash-nash tersebut, maka ini adalah perkara baru yang terpuji (bid’ah hasanah / mahmudah).”
Dengan demikian, umat Islam dianjurkan untuk terus merawat tradisi luhur ini dengan penuh rasa percaya diri, seraya menjaga ketertiban, kebersihan niat, dan tenggang rasa sosial di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Fatwa Ulama Nusantara dan Rujukan Kitab Turats Mu’tamad
Kajian mendalam mengenai legalitas puji-pujian sebelum sholat ditegaskan dalam berbagai kitab rujukan ulama Syafi’iyyah Nusantara. Sayyid Abdurrahman Ba’alawi dalam kitab fatwa masyhur Bughyatul Mustarsyidin (hal. 48) mencatat fatwa para ulama terkemuka mengenai amaliyah membaca shalawat dan syair pujian dengan suara terdengar di masjid. Beliau menegaskan bahwa selama syair tersebut tidak memuat kata-kata munkar, dusta, atau merusak kesucian masjid, maka hal itu termasuk dalam kategori syiar kebaikan yang mendatangkan pahala kebajikan.
Hadhratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah juga menegaskan pentingnya merawat amaliyah salafush shalih yang telah terbukti menanamkan kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW di tengah masyarakat awam. Puji-pujian yang dialunkan di surau bukan sekadar tradisi tanpa ruh, melainkan benteng pertahanan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah dari rongrongan paham materialisme dan sekularisme yang kian mengikis nilai-nilai ruhiyah umat.
Adab Santri dalam Melantunkan Puji-Pujian Masjid
Para kiai pesantren merumuskan adab-adab terpuji bagi santri atau takmir yang bertugas memimpin puji-pujian di surau dan masjid:
Tanya Jawab Seputar Tradisi Pujian Masjid (FAQ)
Apakah melantunkan pujian setelah adzan termasuk bid’ah yang tercela?
Bukan. Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah mengkategorikannya sebagai bid’ah hasanah (perkara baru yang baik) atau sunnah wasilah, karena isinya semata-mata shalawat kepada Nabi SAW, dzikir tauhid, dan nasehat kebajikan yang memiliki dalil perintah umum dalam Al-Qur’an dan hadits shahih.
Bolehkah anak-anak melantunkan pujian di masjid?
Sangat dianjurkan. Memberi kesempatan kepada anak-anak dan remaja masjid melantunkan syair pujian merupakan metode tarbiyah efektif untuk membiasakan mereka mencintai masjid sejak dini dan melatih keberanian bersyiar di tengah jamaah.
Berapa lama durasi ideal pujian sebelum iqomah dikumandangkan?
Durasi ideal berkisar antara 5 hingga 10 menit (khusus waktu Subuh dapat diperpanjang hingga 10-15 menit). Durasi ini cukup memberi kesempatan bagi makmum untuk berwudhu dan menunaikan sholat sunnah qobliyah tanpa membuat imam dan jamaah yang telah siap menunggu terlalu lama.
Bolehkah pujian diganti dengan membaca Al-Qur’an secara individu?
Boleh. Baik melantunkan pujian bersama-sama maupun membaca mushaf Al-Qur’an secara individu memiliki keutamaan masing-masing. Di masjid yang terbiasa bersyiar bersama, pujian dilantunkan dengan tertib tanpa mengganggu kekhusyukan jamaah yang sedang sholat sunnah.
Masyarakat dapat memantau waktu ibadah melalui portal jadwal adzan nasional untuk memastikan ketepatan waktu sebelum puji-pujian dilantunkan.
Kajian & Waktu Terkait:
- Nadhom puji-pujian dilantunkan tanpa meninggalkan amalan pokok membaca doa sesudah adzan yang ma’tsur dari Rasulullah saw.
- Lantunan syair shalawat dihentikan seketika saat muadzin mulai berdiri mengumandangkan bacaan iqomah.
- Irama nadhom tradisi memiliki kedekatan rasa dengan seni irama adzan maqamat yang digemari di Nusantara.
Bagaimana jika ada jamaah yang merasa terganggu oleh suara pujian?
Takmir masjid hendaknya mengatur volume pengeras suara secara bijak dan proporsional. Pujian dilantunkan dengan intonasi lembut dan tenang menggunakan pengeras suara dalam, sehingga menciptakan suasana teduh yang membantu jamaah mempersiapkan kekhusyukan sholat fardhu.